Inisiatif sosialisasi budaya UNHCR untuk mendorong keharmonisan di komunitas lokal

Setiap minggu, Mustafa berlatih di kolam renang setempat di Makassar, Sulawesi Selatan, bersama temannya orang Indonesia, Alamsyah.

Seorang pengungsi laki-laki membawa anak laki-lakinya sementara berinteraksi dengan seorang penduduk lokal ramah yang tinggal di satu lingkungan dengan dia.
© UNHCR/ E. Yuliarso

Mustafa adalah seorang pengungsi asal Afganistan yang melarikan diri dari kekerasan dan penindasan di tanah airnya hampir 4 tahun lalu. Ia dulu biasanya berenang setiap hari di kolam renang dekat rumahnya di Afghanistan untuk menjaga kebugaran. Di Indonesia, dia bertemu dengan Alamsyah, tetangganya yang orang Indonesia dan atlet nasional yang sering berpartisipasi dalam berbagai kompetisi renang. Dalam rangka membantu teman barunya beradaptasi dengan komunitas lokal, Alamsyah memperkenalkan Mustafa ke sesama perenang di klub renang lokal di Makassar. “Saya senang berteman dengan orang-orang Indonesia di sini – mereka memberikan saya energi dan membantu saya menyesuaikan diri dengan kehidupan di Makssar. Saya juga merasa bersyukur dapat berenang di Indonesia, karena renang mengurangi stres dan memberikan saya kekuatan,” kata Mustafa kepada staf UNHCR.

Untuk mempromosikan harmonisasi dan hidup damai antar pengungsi, pencari suaka, dan komunitas lokal di Indonesia, UNHCR secara berkala mengadakan sesi sosialisasi budaya, latihan pembangunan kapasitas, dan inisiatif peningkatan kesadaran untuk orang-orang yang menjadi perhatian UNHCR dan anggota komunitas penerima, termasuk pemerintah di tingkat lokal dan nasional. Beberapa sesi ini dilaksanakan untuk pengungsi yang ditahan di rumah detensi imigrasi dalam persiapan untuk pembebasan dan transfer ke perumahan komunitas lokal. Sesi sosialisasi budaya dilaksanakan di seluruh penjuru nusantara sepanjang tahun.

“Saya senang berteman dengan orang-orang Indonesia di sini – mereka memberikan saya energi dan membantu saya menyesuaikan diri dengan kehidupan di Makssar. Saya juga merasa bersyukur dapat berenang di Indonesia, karena renang mengurangi stres dan memberikan saya kekuatan”

Inisiatif tersebut diterima dengan baik oleh pengungsi, pencari suaka, dan pejabat pemerintah. Contohnya, dalam kolaborasi dengan Jesuit Refugee Service (JRS) dan kantor imigrasi di Sulawesi Utara, UNHCR mengadakan sesi sosialisasi budaya pada tahun 2016 tentang hukum dan kebiasaan Indonesia bagi pengungsi dan pencari suaka di rumah detensi imigrasi di Manado. Sekitar 154 pengungsi dan pencari suaka menghadiri sesi tersebut yang berguna untuk mempersiapkan pengungsi untuk proses perpindahan dari rumah detensi ke perumahan komunitas di Manado. Sesi tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pengungsi dan pencari suaka mengenai kebiasaan, budaya, dan regulasi Indonesia demi mencegah pelanggaran hukum secara tidak sengaja.

Bapak Hasrullah, ketua rumah detensi imigrasi di Manado, menyambut inisiatif ini sebagai kemajuan positif untuk membangun hubungan kuat antara pengungsi dan komunitas penerima pengungsi. “[Sosialisasi budaya] bermanfaat bagi pengungsi dan pencari suaka tidak hanya di Manado, tetapi juga di lokasi lain di Indonesia. Inisiatif [sosialisasi] memungkinkan orang asing meningkatkan pengetahuan mereka tentang hokum dan peraturan di Indonesia, sehingga mereka dapat terus menghormati peraturan Indonesia. Informasi ini penting untuk hidup berdampingan di komunitas lokal, karena pengungsi dan pencari suaka perlu mempersiapkan diri hidup bersama komunitas ketika mereka dibebaskan dari detensi,” kata Bapak Hasrullah.

Mustafa adalah bukti hidup dari efektivitas sesi sosialisasi budaya. Sebelum tinggal di perumahan komunitas di Makassar, Mustafa tinggal di rumah detensi imigrasi Makassar selama satu tahun, di mana ia berpartisipasi dalam sesi sosialisasi budaya serupa. “Saya berpikir bahwa sesi sosialisasi ini sangat baik dan berguna. Sesi tersebut membantu saya memahami apa yang harus dan tidak seharusnya dilamukan ketika hidup bersama orang-orang Indonesia. Saya senang karena saya dapat mempelajari informasi berharga ini,” kata Mustafa. Inisiatif UNHCR memberikan kepada pengungsi seperti Mustafa kompetensi budaya dan keberanian untuk bertemu dengan orang-orang Indonesia dan membangun hubungan dengan komunitas lokal.

“[Sosialisasi budaya] bermanfaat bagi pengungsi dan pencari suaka tidak hanya di Manado, tetapi juga di lokasi lain di Indonesia. Inisiatif [sosialisasi] memungkinkan orang asing meningkatkan pengetahuan mereka tentang hukum dan peraturan di Indonesia, sehingga mereka dapat terus menghormati peraturan Indonesia.”

Akibat kesuksesan inisiatif sosialisasi budaya UNHCR dan hubungan yang lebih baik antara pengungsi, pencari suaka, dan orang-orang Indonesia, pemerintah lokal berencana mengadakan serangkaian sesi sosialisasi sepanjang tahun 2017 di Makassar, Kupang, Manado, Pekanbaru, dan Surabaya, di mana sejumlah besar pengungsi dan pencari suaka bermukim.

Indonesia saat ini meenerima lebih dari 14,000 pengungsi dan pencari suaka dari berbagai negara, termasuk Afghanistan, Somalia, Ethiopia, Irak, dan Myanmar. UNHCR memprioritaskan terciptanya lingkungan harmonis untuk orang-orang yang menjadi perhatian UNHCR dan komunitas penerima demi mendorong kesejahteraan pengungsi, pencari suaka, dan anggota komunitas lokal di Indonesia.