Bersama Pemerintah Indonesia, Mitra Kerja/ Organisasi dan Badan PBB Lainnya, UNHCR Pastikan Pengungsi Tidak Tertingal Dalam Respon COVID-19

UNHCR Indonesia terus mengikuti perkembangan dan arahan terkait COVID-19 di Indonesia.

Photo credit: Mapanbumi

UNHCR Indonesia terus mengikuti perkembangan dan arahan terkait COVID-19 di Indonesia.

‘Keadaan baik pengungsi, orang – orang yang menjadi perhatian kami, saat ini menjadi fokus upaya – upaya pencegahan dan respon yang kami lakukan. Bersama para mitra kerja, kami berkoordinasi dengan Pemerintah Indonesia untuk memastikan pengungsi termasuk dalam sistem respon nasional COVID-19,’ ucap Ann Maymann, Kepala Perwakilan UNHCR Indonesia.

Sesuai protokol Pemerintah Indonesia, pengungsi memiliki akses terhadap pelayanan yang berhubungan dengan COVID-19, termasuk dalam hal pemeriksaan dan perawatan, yang diberikan Kementrian Kesehatan. Komunitas pengungsi di seluruh negeri telah diinformasikan mengenai protokol tersebut melalui berbagai saluran dan pelaku komunikasi.

Mengunakan beragam saluran komunikasi, UNHCR bekerja untuk memastikan informasi yang benar terkait pencegahan, gejala, tindakan yang diperlukan dan kemana harus mencari bantuan – mencapai pengungsi dan pencari suaka tepat waktu. Hal ini dilakukan melalui kolaborasi erat dengan pihak otoritas di tingkat lokal serta dengan mitra kerja kami seperti Church World Service (CWS), Catholic Relief Services (CRS), Dompet Dhuafa, the International Organization for Migration (IOM), Jesuit Refugee Services (JRS), Pos Keadilan Peduli Umat – Human Initiative (PKPU-HI) dan Selasih.

Materi komunikasi seperti poster dan selebaran dari Kementrian Kesehatan dan WHO diterjemahkan ke dalam beberapa Bahasa: Inggris Farsi, Arabic, Somali, Perancis dan lainnya. Materi – materi ini didistribusikan secara luas dan ditunjukkan pada saat sesi informasi dengan pengungsi, serta dipasang di kantor – kantor UNHCR dan mitra kerja, pusat belajar pengungsi dan pusat akomodasi pengungsi. Lokasi distribusi termasuk di Jakarta serta kota – kota lain dimana terdapat pengungsi (Medan, Pekanbaru, Bogor, Batam, Tanjung Pinang, Semarang, Surabaya, Denpasar, Makassar dan Kupang).

Persebaran update dikoordinasikan dengan otoritas pemerintah di tingkat lokal, perwakilan pengungsi (Refugee Representatives/RRs) dan pimpinan di pusat belajar pengungsi. Penerjemah komunitas juga memiliki peran penting dalam mengkomunikasikan dan membagikan informasi kepada para pengungsi. UNHCR juga telah menyelenggarakan pertemuan besar secara virtual dengan para perwakilan pengungsi – sebuah praktek yang akan dilanjutkan secara rutin.

Dalam hal pencegahan, UNHCR juga bekerja erat dengan mitra kerja dan pemerintah daerah untuk mendistribusikan peralatan sanitasi seperti masker dan desinfektan kepada komunitas pengungsi. UNHCR memberikan bantuan tunai kepada pengungsi yang paling rentan dan memiliki resiko tinggi dalam situasi ini untuk menunjang peningkatan kondisi kesehatan dan kebersihan mereka. Dengan dana tambahan, UNHCR berencana memperluas bantuan tunai ini untuk lebih banyak keluarga pengungsi.

Banyak pengungsi di Indonesia yang memiliki keahlian dan sumber daya yang dapat menjadi bagian dari solusi. Beberapa pengungsi wanita di Medan, didukung oleh mitra Mapanbumi, memproduksi makser yang dapat dicuci, untuk didistribusikan bagi masyarakat Indonesia yang rentan dan mereka yang terus bekerja diluar rumah untuk menghidupi diri sendiri dan keluarganya. Para pengungsi wanita ini menargetkan produksi 1,000 masker untuk kelompok rentan seperti penarik becak, tukang sampah dan para manula di 18 kecamatan di Medan.

‘Pandemi ini adalah tantangan global yang harus diatasi melalui kerjasama dan solidaritas nasional dan internasional. Hal ini mengingatkan kita bahwa untuk menangani sebuah darurat kesehatan publik secara efektif, setiap orang – termasuk pengungsi harus diperlakukan dengan cara – cara yang tidak diskriminatif,’ tambah Ann Maymann.

***