Mishka Project dan UNHCR Memperingati Hari Perempuan Internasional melalui Acara “Women’s Resilience: From Surviving to Thriving”
Mishka Project dan UNHCR Memperingati Hari Perempuan Internasional melalui Acara “Women’s Resilience: From Surviving to Thriving”
Seorang partisipan pengungsi di acara Mishka Project x UNHCR: "Women's Resilience: From Surviving to Thriving"
Jakarta, Indonesia – 24 April 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026 serta merayakan pencapaian para peserta Mishka Project Batch V, Mishka Project dengan bangga berkolaborasi bersama UNHCR Indonesia dalam serangkaian kegiatan yang menyoroti kekuatan, ketangguhan, dan potensi perempuan pengungsi dengan tema “Women’s Resilience: From Surviving to Thriving” atau bila diterjemahkan ke Bahasa Indonesia: “Ketangguhan Perempuan: Dari Bertahan ke Berdaya.”
Pada kesempatan ini, Mishka Project menghadirkan sebuah trunk show (peragaan busana mini) yang menampilkan lima (5) perempuan pengungsi dan satu (1) muse perempuan dari India, Revathi Prabaharan. Para pengungsi sendiri berasal dari Irak, Palestina, dan Somalia.
Seluruh peserta Mishka Project Batch V menerima sertifikat sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan mereka menyelesaikan program pelatihan intensif selama tiga bulan, dari Januari hingga Maret 2026. Penghargaan khusus juga diberikan untuk kategori Best Model dan Best Painting.
Mishka Project memfasilitasi pelatihan modeling dengan melibatkan instruktur profesional dari Look Inc., salah satu sekolah modeling terkemuka di Jakarta Selatan. Untuk membekali peserta dengan keterampilan kreatif seperti menggambar dan melukis fashion, Mishka Project juga menghadirkan pengajar profesional dari sekolah mode di Jakarta.
Acara ini menampilkan dua sesi talk show. Talk show pertama mengenai Pemberdayaan Perempuan menghadirkan Mariam Yousufi, Manajer Beyond the Fabric, sebuah organisasi yang dipimpin pengungsi perempuan, serta Annisa Nazari, pelatih perempuan dari organisasi yang dipimpin oleh pengungsi dalam Program Olahraga UNHCR Indonesia 2026.
Pada talk show kedua, Ibu Margareth Robin Korwa, SH, MH, Asisten Deputi Perumusan dan Koordinasi Kebijakan di Bidang Perlindungan Hak Perempuan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), bersama perwakilan paralegal pengungsi dari SUAKA, berdiskusi mengenai Akses terhadap Keadilan dan Perlindungan bagi Perempuan.
“Kolaborasi antara Mishka Project dan UNHCR Indonesia yang telah terjalin sejak 2021 mencerminkan komitmen bersama dalam mendorong kemandirian, pengembangan keterampilan, dan inklusi sosial bagi pengungsi perempuan di Indonesia. Proyek ini telah memberdayakan lebih dari 55 perempuan pengungsi, dengan total 45 peserta dari batch I hingga IV,” ujar Ling Hida, Founder Makaila Haifa dan Mishka Project.
Melalui kolaborasi ini, UNHCR Indonesia dan Makaila Haifa bertujuan untuk mendorong pemahaman yang lebih luas, memperkuat kemitraan, serta menggalang dukungan bagi inisiatif yang memungkinkan perempuan melampaui sekadar bertahan menuju masa depan yang berkelanjutan dan berkembang.
“Perempuan pengungsi yang berdaya bukan hanya penyintas. Mereka adalah pemimpin dan agen perubahan di komunitasnya. Di antara kita hari ini terdapat perempuan yang memimpin organisasi, menjadi pelatih dalam organisasi pengungsi, serta berkontribusi sebagai paralegal terlatih dan relawan yang membantu sesama. Kami berharap acara hari ini membuka lebih banyak peluang untuk memperkuat suara, kepemimpinan, dan dampak mereka,” ujar Adriani Wahjanto, Officer-in-Charge UNHCR Indonesia, dalam sambutan pembukaannya.
Melalui fashion dan kreativitas, inisiatif ini bertujuan menciptakan peluang baru sekaligus memperkuat peran pengungsi Perempuan sebagai agen perubahan di komunitasnya. Oleh karena itu, karya lukisan fashion berupa tas, pakaian, dan syal hasil karya peserta Mishka Project turut dipamerkan. Karya-karya ini tersedia untuk dibeli saat acara berlangsung di booth yang berada di area acara (Padang Room 2, The Westin Hotel Jakarta) sebagai bentuk dukungan terhadap pemberdayaan perempuan pengungsi. Karya tersebut merupakan kontribusi dari pengungsi asal Sri Lanka dan Afghanistan, bersama Revathi Prabaharan sebagai muse Mishka Project Batch V.
Tentang Mishka Project
Mishka Project adalah inisiatif sosial yang diluncurkan oleh Makaila Haifa, berfokus pada pemberdayaan perempuan pengungsi di Indonesia melalui fashion sebagai media edukasi, pengembangan keterampilan, serta dukungan mental dan psikologis.
Melalui Mishka Project, perempuan pengungsi tidak hanya memperoleh keterampilan berharga untuk masa depan, tetapi juga membangun kepercayaan diri, koneksi sosial, dan akses terhadap sistem dukungan dalam masa transisi kehidupan mereka.
Tentang Makaila Haifa
Makaila Haifa adalah brand modest fashion yang didirikan pada tahun 2018 dan berbasis di Jakarta serta Singapura. Brand ini diciptakan sebagai simbol perempuan kuat dan berdaya yang saling menguatkan. Makaila Haifa menawarkan berbagai produk seperti abaya, pakaian kasual, busana kerja, syal, dan tas wanita.
Nama Makaila Haifa berasal dari dua putri pendirinya, melambangkan dedikasi personal dalam perjalanan hidupnya sebagai orang tua tunggal. Saat ini, Makaila Haifa terus berkembang sekaligus aktif menginisiasi berbagai proyek sosial yang berfokus pada pemberdayaan perempuan, khususnya perempuan pengungsi di Indonesia.
Tentang UNHCR
UNHCR, Badan PBB untuk Urusan Pengungsi, adalah organisasi global yang berdedikasi untuk menyelamatkan nyawa, melindungi hak, dan membangun masa depan yang lebih baik bagi orang-orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat konflik dan penganiayaan.
Kami memimpin upaya internasional untuk melindungi pengungsi, komunitas yang terdampak pengungsian paksa, dan orang tanpa kewarganegaraan. Kami memberikan bantuan penyelamatan nyawa, menjaga hak asasi manusia dasar, serta mengembangkan solusi agar setiap orang memiliki tempat yang aman untuk disebut rumah dan membangun masa depan yang lebih baik.
Perempuan dan anak perempuan mencakup sekitar 50 persen dari populasi pengungsi, pengungsi internal, dan orang-orang tanpa kewarganegaraan, dengan kelompok seperti tanpa pendamping, hamil, kepala keluarga, penyandang disabilitas, atau lansia menjadi sangat rentan. Di sisi lain, perempuan yang mengalami pengungsian paksa sering kali menjadi responden pertama dalam situasi konflik atau krisis, namun masih kurang terwakili dalam proses perdamaian formal.
UNHCR bekerja untuk menghapus hambatan terhadap partisipasi yang setara dan bermakna bagi perempuan dan anak perempuan yang terdampak pengungsian paksa maupun tanpa kewarganegaraan, termasuk melalui kemitraan dengan sekitar 250 organisasi yang dipimpin perempuan.
Kontak Media:
Hendrik C. Therik - Assistant Protection Officer UNHCR Indonesia
+6281339000375
Ozy - Public Relation Makaila Haifa
+6281296616460