Close sites icon close
Search form

Cari untuk di situs negara.

Profil negara

Situs web negara

UNHCR menyerukan dukungan segera bagi 9 juta orang yang membutuhkan bantuan untuk menghadapi musim dingin, sementara sumber daya bantuan semakin terbatas dan suhu terus menurun.

Siaran Pers

UNHCR menyerukan dukungan segera bagi 9 juta orang yang membutuhkan bantuan untuk menghadapi musim dingin, sementara sumber daya bantuan semakin terbatas dan suhu terus menurun.

3 November 2026 Tersedia juga dalam:
A woman and a young girl warm their hands near an upright stove inside a tented living room

JENEWA – Di tengah keterbatasan pendanaan dan lonjakan harga energi, sedikitnya 9 juta orang diperkirakan membutuhkan bantuan tambahan untuk menghadapi musim dingin tahun ini di empat negara terdampak konflik, yaitu Ukraina, Suriah, Lebanon, dan Afghanistan. Hal ini disampaikan UNHCR, Badan PBB untuk Pengungsi, hari ini saat meluncurkan kampanye penggalangan dana musim dingin tahunannya.

Untuk mengatasi penurunan anggaran yang signifikan, UNHCR menargetkan penggalangan dana sedikitnya US$50 juta untuk mendukung kebutuhan musim dingin 2026–2027. Jumlah ini US$3 juta lebih tinggi dibandingkan dana yang berhasil dihimpun tahun lalu. Penggalangan dana dilakukan melalui kampanye tahunan yang menyasar masyarakat umum dan sektor swasta.

“Sumber daya semakin terbatas dan biaya terus melonjak, sementara musim dingin di belahan bumi utara semakin dekat,” ujar Dominique Hyde, Direktur Hubungan Eksternal UNHCR. “Jutaan orang di negara-negara yang rentan dan terdampak konflik ini berisiko menghadapi cuaca ekstrem tanpa perlindungan yang memadai dari suhu dingin. Mereka membutuhkan dukungan masyarakat lebih dari sebelumnya. Kita harus segera melindungi mereka.”

Kebutuhan bantuan musim dingin sangat besar di keempat negara tersebut. Jutaan orang harus menghadapi lonjakan harga energi dan pangan, tempat tinggal sementara yang tidak memadai, keterbatasan bahan bakar untuk pemanas dan memasak, serta kurangnya pakaian dan selimut. Kondisi ini semakin membebani anggaran rumah tangga mereka.

Bahkan sebelum musim dingin tiba, para pengungsi dan masyarakat yang menampung mereka telah terdampak pemangkasan bantuan tunai, layanan kesehatan, pendidikan, dan dukungan mata pencaharian. Dana yang berhasil dihimpun akan digunakan untuk menyediakan berbagai kebutuhan, antara lain alat pemanas di Afghanistan, selimut termal di Suriah dan Lebanon, serta perlengkapan untuk memperbaiki rumah-rumah yang rusak akibat serangan bom di Ukraina yang tengah menghadapi krisis energi.

Ukraina

Musim dingin kali ini akan menjadi musim dingin kelima sejak perang berskala penuh berlangsung di Ukraina. Suhu diperkirakan dapat turun hingga -20°C, di tengah meningkatnya serangan Federasi Rusia terhadap warga sipil dan pekerja kemanusiaan. Pemadaman listrik semakin memperburuk penderitaan masyarakat yang terdampak perang, termasuk sekitar 4 juta orang yang mengungsi di dalam negeri.

Pada musim dingin sebelumnya, fasilitas energi diserang setidaknya 423 kali. Melalui rencana bantuan musim dingin, UNHCR menargetkan pemberian bantuan tunai kepada sekitar 310.000 orang serta dukungan untuk meningkatkan insulasi rumah bagi 80.000 orang.

Pemantauan UNHCR menemukan bahwa 75 persen orang yang meninggalkan Ukraina pada periode Desember 2025 hingga Februari 2026 menyebutkan ketiadaan listrik, air, atau pemanas sebagai alasan mereka mengungsi. Temuan ini menunjukkan bagaimana kondisi musim dingin dapat mendorong masyarakat untuk meninggalkan tempat tinggal mereka.

Di Dnipro, Svitlana menceritakan kepada UNHCR ketakutannya setelah sebuah pesawat nirawak menghantam apartemennya pada musim dingin lalu. Beberapa detik sebelum serangan terjadi, ia sempat membawa putranya, Yosyp, ke ruang bawah tanah.

“Setelah kejadian itu, saya melihat pecahan kaca berserakan di mana-mana. Jika anak saya berada di dalam kamar saat itu, kemungkinan ia untuk selamat akan sangat kecil ... Di luar, saya melihat balok-balok Lego yang sebelumnya dimainkan Yosyp. Ia biasa bermain dengan balok-balok itu di ambang jendela. Saya juga melihat rel kereta mainannya di pintu masuk gedung. Saat itulah saya menyadari bahwa jendela rumah kami sudah tidak ada lagi.”

Afghanistan

Afghanistan kembali menghadapi musim dingin yang sulit di tengah gelombang kepulangan dalam skala besar, kebutuhan kemanusiaan yang sangat besar, dan keterbatasan pendanaan yang serius.

Hampir 4 juta orang telah kembali dari Pakistan dan Iran antara Januari 2025 hingga Juli 2026. Banyak di antara mereka memiliki sumber daya yang sangat terbatas untuk membangun kembali kehidupan mereka.

Data PBB menunjukkan bahwa 4,2 juta orang akan membutuhkan dukungan tempat tinggal pada 2026. Sementara itu, hampir sepertiga rumah tangga yang dinilai melaporkan bahwa mereka tidak memiliki pakaian musim dingin yang memadai.

Kesenjangan pendanaan telah membatasi bantuan yang dapat diberikan, termasuk bantuan tunai bagi mereka yang kembali ke Afghanistan, perlengkapan untuk memperbaiki tempat tinggal, selimut, dan alat pemanas.

“Keluarga-keluarga terpaksa membuat pilihan sulit antara memenuhi kebutuhan pemanas, makanan, dan layanan kesehatan. Musim dingin lalu, banyak orang membakar kardus, kertas, atau sampah plastik agar tetap hangat karena batu bara dan kayu bakar terlalu mahal,” ujar Hyde.

“Anak-anak sangat rentan terhadap kondisi ini. Kami khawatir akan kembali melihat kasus pneumonia dan penyakit pernapasan seperti yang terjadi pada musim dingin lalu.”

Suriah

Suriah menunjukkan perkembangan yang memberikan harapan, seiring jutaan orang kembali dari negara-negara di kawasan tersebut dalam dua tahun sejak jatuhnya rezim Assad.

Namun, tanpa tambahan pendanaan untuk memenuhi kebutuhan dasar selama musim dingin, seperti tempat tinggal yang layak, pakaian, dan bahan bakar untuk pemanas, kondisi para pengungsi yang kembali ke negara asal mereka dapat semakin rentan.

Di Suriah, sekitar 2,4 juta orang membutuhkan bantuan musim dingin di wilayah-wilayah prioritas. UNHCR berharap dapat membantu sekitar 230.000 orang, kurang dari setengah jumlah penerima bantuan pada musim dingin sebelumnya.

Lebanon

Di Lebanon, hampir 300.000 orang diperkirakan membutuhkan bantuan musim dingin. Namun, akibat keterbatasan pendanaan, UNHCR hanya mampu menjangkau setengah dari jumlah tersebut.

Lonjakan biaya pemanas semakin memperburuk kerentanan masyarakat. Harga solar hampir dua kali lipat dibandingkan sebelum eskalasi konflik regional pada Maret 2026. Sejumlah keluarga melaporkan bahwa bantuan yang sebelumnya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka selama sebagian besar musim dingin, kini mungkin hanya dapat bertahan selama beberapa minggu.

Mari bersama membawa perubahan bagi kehidupan mereka yang terpaksa meninggalkan rumah akibat konflik dan penganiayaan. Berikan donasi Anda hari ini untuk membantu mereka menghadapi musim dingin.