Close sites icon close
Search form

Cari untuk di situs negara.

Profil negara

Situs web negara

UNHCR: Efek berantai dari krisis Timur Tengah membebani upaya bantuan di luar kawasan.

Catatan Pengarahan

UNHCR: Efek berantai dari krisis Timur Tengah membebani upaya bantuan di luar kawasan.

1 May 2026 Tersedia juga dalam:
Tim UNHCR di Lebanon menerima pengiriman bantuan udara yang membawa lebih dari 11.000 barang bantuan penting.

Tim UNHCR di Lebanon menerima pengiriman bantuan udara yang membawa lebih dari 11.000 barang bantuan penting.

JENEWA – Krisis di Timur Tengah telah menimbulkan efek berantai yang luas jauh melampaui kawasan tersebut, dengan dampak yang semakin besar terhadap rantai pasok kemanusiaan global dan penyaluran bantuan. Lonjakan biaya transportasi dan gangguan pengiriman memaksa UNHCR, Badan PBB untuk Urusan Pengungsi, menyesuaikan strategi distribusi bantuannya.

Meningkatnya ketidakamanan dan ketidakstabilan di jalur-jalur utama Teluk, termasuk Selat Hormuz, telah mengganggu lalu lintas maritim. Kenaikan biaya bahan bakar, pangan, dan pengiriman barang di seluruh dunia mendorong naiknya harga serta menunda pengiriman pasokan penting.

Biaya transportasi dan bahan bakar yang lebih tinggi berdampak tidak proporsional pada masyarakat dalam situasi darurat, termasuk jutaan pengungsi dan orang terlantar, melalui berkurangnya dan tertundanya bantuan penyelamat jiwa. Kondisi ini juga mengurangi kemampuan lembaga bantuan untuk memberikan bantuan tepat waktu di tengah keterbatasan pendanaan yang parah. Untuk mengurangi gangguan, UNHCR bergerak cepat dengan mengalihkan jalur kargo laut, misalnya melalui Aqaba, serta meningkatkan penggunaan koridor darat alternatif, termasuk pengangkutan truk melintasi Semenanjung Arab dan Turki dari Dubai.

Penutupan jalur pelayaran utama memaksa penggunaan rute alternatif yang lebih panjang dan mahal, sehingga memperpanjang waktu transit dan meningkatkan kompleksitas operasional. Tarif pengiriman dari negara-negara sumber utama naik hampir 18 persen sejak pecahnya konflik, sementara kapasitas penyedia transportasi global turun dari 97 persen menjadi 77 persen sejak awal 2026.

Untuk beberapa pengiriman, biaya bahkan meningkat lebih dari dua kali lipat. Misalnya, biaya pengangkutan barang bantuan dari stok global UNHCR di Dubai ke operasi mereka di Sudan dan Chad naik dari sekitar US$927.000 menjadi US$1,87 juta.

Kemacetan di pelabuhan-pelabuhan utama, termasuk Jeddah dan Mersin, serta penghentian layanan pengangkut, kenaikan harga bahan bakar, dan meningkatnya premi asuransi risiko perang, yang saat ini diperkirakan mencapai 0,5 hingga 1,5 persen dari nilai kargo untuk transit Teluk, semakin menambah tekanan. Ketergantungan yang meningkat pada jalur darat juga menyebabkan kekurangan truk dan naiknya biaya transportasi darat.

Situasi di Afrika menjadi perhatian khusus, karena banyak krisis pengungsian yang terjadi secara bersamaan dan sering kali tragisnya terabaikan. Di Kenya, tempat salah satu stok global UNHCR berada, kenaikan harga bahan bakar sekitar 15 persen baru-baru ini memicu keterlambatan dan berkurangnya ketersediaan truk untuk pengiriman ke Etiopia, Republik Demokratik Kongo, dan Sudan Selatan. Di Sudan, di mana konflik telah memasuki tahun keempat, biaya penyaluran bantuan meningkat dua kali lipat dalam beberapa bulan terakhir, sementara pengalihan jalur pengiriman melalui Tanjung Harapan menambah waktu pengiriman hingga 25 hari.

Di tengah tantangan tersebut, UNHCR sejauh ini masih mampu menjaga keberlanjutan bantuan penyelamat jiwa berkat sistem kesiapsiagaan yang kuat dan jaringan pasokan globalnya. Ini mencakup tujuh pusat stok global di Dubai, Termez, Kopenhagen, Accra, Douala, Nairobi, dan Panama City, yang mampu mendukung hingga 1 juta orang terlantar kapan saja, bersama lebih dari 160 gudang tingkat negara dan pengaturan siaga untuk pengadaan lokal serta bantuan keuangan. Secara global, UNHCR memiliki stok lebih dari 31.000 ton metrik dan 135.000 meter kubik barang bantuan senilai sekitar US$130 juta, yang menjadi penyelamat bagi orang-orang yang terusir akibat konflik dan penganiayaan.

Sejak awal krisis, UNHCR bersama mitra sektor hunian telah menyalurkan barang bantuan kepada lebih dari 200.000 orang terlantar di Lebanon, sebagian besar menggunakan pasokan yang sudah diposisikan sebelumnya. Dukungan tambahan mencakup tiga pengiriman udara yang disumbangkan oleh Uni Eropa, Prancis, Irlandia, dan Italia, serta 40 truk yang membawa lebih dari 317 ton metrik bantuan penting dari Dubai untuk mendukung hingga 100.000 orang.

Jika ketidakstabilan di Timur Tengah terus berlanjut, kenaikan biaya, keterlambatan, dan keterbatasan kapasitas transportasi kemungkinan akan semakin membatasi operasi kemanusiaan. Meski UNHCR terus beradaptasi melalui pengalihan rute, pemindahan stok, dan dukungan logistik dari donor, gangguan berkepanjangan berisiko mengurangi skala dan kecepatan bantuan mencapai mereka yang membutuhkan, dengan konsekuensi serius bagi jutaan pengungsi dan orang terlantar di seluruh dunia.