Dalam Semangat Ramadan dan Hari Perempuan Internasional: Merayakan Pengungsi Perempuan di Cisarua
Dalam Semangat Ramadan dan Hari Perempuan Internasional: Merayakan Pengungsi Perempuan di Cisarua
Cisarua, 9 Maret 2026 – Ramadan adalah waktu yang sering dikaitkan dengan refleksi, kepedulian, dan kebersamaan. Tahun ini, bulan suci tersebut bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, yang membuka peluang untuk mengangkat kekuatan dan ketangguhan.
Hal ini terlihat di Cisarua, sebuah kawasan tenang yang dikenal sebagai tempat tinggal komunitas pengungsi. Dalam menjalankan ibadah puasa, para perempuan menunjukkan bahwa mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga memimpin, berkarya, dan memberdayakan orang-orang di sekitar mereka.
Dalam kunjungan pada 9 Maret, UNHCR berkesempatan bertemu dengan perempuan-perempuan pengungsi luar biasa yang inisiatifnya memberikan dampak nyata bagi komunitas mereka. Kunjungan ini menjadi semakin penting karena UNHCR didampingi oleh Guzelya Marisova Djani, seorang wirausahawan sosial, penulis, advokat, dan pendukung UNHCR. Ia menyaksikan secara langsung ketangguhan serta komitmen kuat terhadap pemberdayaan dan pertumbuhan bersama.
Salah satu sorotan kunjungan tersebut adalah Craft Creation, sebuah organisasi yang dipimpin perempuan dan berfokus pada pemberian keterampilan praktis kerajinan tangan bagi perempuan pengungsi. Di tempat ini, kreativitas menjadi sarana ekspresi sekaligus jalan menuju kemandirian. Para perempuan berkumpul untuk belajar dan memproduksi berbagai kerajinan tangan seperti rajutan, gantungan kunci, gelang, alas gelas, dan tas, menggunakan bahan seperti wol dan rotan. Lebih dari sekadar produk, Craft Creation menyediakan lingkungan yang aman dan suportif, di mana perempuan dapat membangun kembali kepercayaan diri, berbagi pengetahuan, dan saling mendukung.
Kunjungan ini juga mencakup diskusi bermakna dengan para pemimpin beberapa organisasi yang dipimpin perempuan. Dalam percakapan yang terbuka dan reflektif, mereka berbagi wawasan tentang pekerjaan yang sedang mereka lakukan serta tantangan yang dihadapi, mulai dari keterbatasan sumber daya hingga masa depan yang tidak pasti. Meski demikian, tekad mereka tetap kuat. Para perempuan ini terus memimpin inisiatif yang mendorong pendidikan, pengembangan keterampilan, dan dukungan emosional di dalam komunitas mereka.
Organisasi inspiratif lainnya adalah Cisarua Refugee Shotokan Karate Club (CRSKC), sebuah inisiatif yang dipimpin oleh pengungsi dan berfokus pada pengembangan generasi muda melalui seni bela diri. Didirikan oleh Meena Asadi, seorang pengungsi perempuan yang juga merupakan juara dan pelatih karate, klub ini menanamkan disiplin, kepercayaan diri, dan rasa memiliki di kalangan pengungsi muda, selain pelatihan fisik.
Dalam sesi tersebut, Ibu Marisova Djani turut bergabung bersama para siswa di atas matras. Sebagai pemegang sabuk hitam taekwondo, ia langsung merasakan kedekatan dengan kelompok tersebut melalui kecintaan yang sama terhadap seni bela diri. Momen interaksi ini menunjukkan bagaimana olahraga dapat melampaui bahasa dan latar belakang, membangun jembatan, dan memperkuat ikatan komunitas.
Seiring Ramadan mendorong semangat berbagi dan refleksi, serta Hari Perempuan Internasional menyerukan pengakuan dan kesetaraan, kisah-kisah dari Cisarua menjadi pengingat kuat tentang seperti apa ketangguhan yang digerakkan oleh komunitas. Para perempuan pengungsi di sini tidak hanya menghadapi situasi sulit, tetapi juga secara aktif menciptakan peluang bagi diri mereka sendiri dan orang lain.
Kekuatan, kreativitas, dan kepemimpinan mereka menerangi jalan ke depan: sebuah jalan yang dibangun di atas harapan, solidaritas, dan keyakinan bahwa bahkan dalam kondisi pengungsian, komunitas dapat berkembang.