Close sites icon close
Search form

Cari untuk di situs negara.

Profil negara

Situs web negara

UNHCR, IMO, dan ICS meluncurkan panduan penyelamatan yang telah direvisi untuk memperkuat perlindungan bagi pengungsi dan migran

Pengumuman

UNHCR, IMO, dan ICS meluncurkan panduan penyelamatan yang telah direvisi untuk memperkuat perlindungan bagi pengungsi dan migran

Siaran pers bersama dengan International Maritime Organization (IMO) dan International Chamber of Shipping (ICS).
21 May 2026 Tersedia juga dalam:
Pengungsi Rohingya tiba di Ulee Madon, Aceh

Pengungsi Rohingya tiba di Ulee Madon, Provinsi Aceh, pada November 2023 setelah melakukan perjalanan laut berbahaya dari Bangladesh.
 

LONDON – United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), International Maritime Organization (IMO), dan International Chamber of Shipping (ICS) hari ini merilis Rescue Guide (Panduan Penyelamatan) yang telah direvisi, sebuah alat untuk membantu semua pihak memenuhi kewajiban kemanusiaan dan hukum dalam menyelamatkan pengungsi dan migran yang berada dalam bahaya di laut serta membawa mereka ke tempat yang aman.

Edisi revisi Rescue at Sea: A guide to principles and practice in the context of refugee and migrant movements diterbitkan di tengah terus terjadinya tragedi kapal karam yang menyoroti kebutuhan mendesak akan aksi kolektif yang lebih kuat untuk mencegah hilangnya lebih banyak nyawa orang-orang yang melarikan diri dari bahaya atau mencari kehidupan yang lebih baik.

Pada tahun yang menandai peringatan 75 tahun 1951 Refugee Convention, panduan revisi ini menegaskan kembali relevansi dan dampak penyelamatan jiwa dari tindakan perlindungan praktis, seperti menyelamatkan orang-orang yang mengalami kesulitan di laut, termasuk pengungsi dan migran, serta memastikan pendaratan yang aman sesuai hukum internasional. Laut harus diperlakukan sebagai ruang kemanusiaan, dan kewajiban menyelamatkan orang yang berada dalam bahaya di laut harus ditegakkan tanpa diskriminasi.

“Tidak ada seorang pun yang mempertaruhkan nyawanya di laut, atau nyawa keluarganya, kecuali karena putus asa mencari keselamatan dan stabilitas akibat tidak adanya jalur yang lebih aman. Namun, kecelakaan kapal yang mengerikan ini tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang tak terhindarkan. Semua itu bisa dicegah,” kata Elizabeth Tan. “Panduan Penyelamatan yang direvisi ini adalah alat praktis untuk membantu menegakkan salah satu kewajiban moral dan hukum paling jelas di laut: menyelamatkan pengungsi dan migran yang berada dalam kesulitan dan membawa mereka ke tempat aman. Panduan ini mencerminkan komitmen bersama UNHCR, IMO, dan sektor pelayaran, serta lembaga kemanusiaan dan LSM, untuk mendukung negara-negara dalam tanggung jawab utama mereka menyelamatkan nyawa di laut.”

Jalur laut terus menelan korban jiwa dalam jumlah besar. Pada tahun 2025, menurut data dari UNHCR, otoritas terkait, dan para mitra, Laut Mediterania tetap menjadi salah satu jalur paling mematikan di dunia, dengan 1.953 orang dilaporkan meninggal atau hilang. Jalur Asia Selatan dan Asia Tenggara mencatat 892 orang meninggal atau hilang dari lebih dari 6.500 pengungsi Rohingya yang mencoba penyeberangan laut berbahaya pada tahun tersebut, menjadikannya jalur dengan tingkat kematian tertinggi di dunia untuk perjalanan laut pengungsi dan migran. Bahaya juga meluas di sekitar Afrika Barat, dengan rute Atlantik Afrika Barat merenggut 424 nyawa tahun lalu.

Melanjutkan edisi tahun 2015, Panduan Penyelamatan yang baru direvisi memberikan panduan yang lebih rinci mengenai standar hukum yang berlaku dan prosedur praktis untuk memastikan penyelamatan serta pendaratan cepat bagi orang-orang yang berada dalam bahaya di laut, di lokasi yang tidak membuat mereka menghadapi risiko, termasuk risiko pemulangan paksa. Tersedia dalam enam bahasa — Arab, Mandarin, Inggris, Prancis, Rusia, dan Spanyol — panduan ini menjadi sumber praktis global bagi nakhoda kapal, pemilik kapal, otoritas negara, perusahaan asuransi, dan semua pihak yang terlibat dalam operasi penyelamatan maritim.

“Tragedi kemanusiaan akibat hilangnya nyawa di laut selama perjalanan yang tidak aman dan berbahaya masih terus berlangsung. Kita harus mengakui upaya tanpa lelah dari penjaga pantai, angkatan laut, lembaga pencarian dan penyelamatan, serta kapal dagang dalam menyelamatkan orang-orang yang berada dalam bahaya di laut, mencegah jumlah korban tewas yang lebih besar lagi. Kewajiban hukum yang telah ditetapkan harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata di laut. Panduan revisi ini memberikan kejelasan bagi pemerintah dan langkah-langkah praktis bagi nakhoda serta awak kapal,” kata Arsenio Dominguez.

“Industri pelayaran global sering kali menjadi pihak pertama yang merespons ketika ada orang dalam bahaya di laut. Para nakhoda dan awak kapal bertindak dengan profesionalisme dan rasa kemanusiaan, sering kali melampaui tugas komersial mereka demi menyelamatkan nyawa. Panduan revisi ini memberikan kejelasan praktis untuk mendukung upaya tersebut, membantu memastikan bahwa penyelamatan dilakukan dengan aman, dapat diprediksi, dan sesuai hukum internasional, sekaligus memperkuat tanggung jawab bersama antara negara dan para pemangku kepentingan untuk memastikan pendaratan yang tepat waktu,” kata Thomas A. Kazakos.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi: