Meskipun terjadi pemangkasan pendanaan, UNHCR menanggapi berbagai keadaan darurat yang kompleks pada tahun lalu
Meskipun terjadi pemangkasan pendanaan, UNHCR menanggapi berbagai keadaan darurat yang kompleks pada tahun lalu
Rahmatullah kehilangan ibu dan seorang putranya dalam gempa bumi Agustus 2025 yang melanda Provinsi Kunar di Afghanistan bagian timur.
GENEVA – Di tengah pemangkasan pendanaan parah yang semakin menekan sumber daya kemanusiaan, UNHCR pada tahun lalu menanggapi berbagai keadaan darurat baru yang sangat kompleks serta krisis berkepanjangan yang kian memburuk dan memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka, menurut Laporan Dampak UNHCR 2025: Tanggapan terhadap Keadaan Darurat Baru dan Krisis Berkepanjangan, yang dirilis hari ini.
Laporan tersebut mencatat bahwa perhatian berkelanjutan terhadap solusi akan tetap penting, karena konflik dan ketidakstabilan yang berlangsung dapat memicu pengungsian tambahan dan memengaruhi kondisi yang dihadapi oleh orang-orang yang sudah mengungsi.
Sepanjang 2025, tim UNHCR menyalurkan perlindungan dan bantuan penyelamat jiwa di sejumlah krisis paling menantang di dunia. Mulai dari mendukung orang-orang yang melarikan diri dari kekerasan yang kembali meningkat di Republik Demokratik Kongo bagian timur ke negara tetangga Burundi dan Uganda, hingga membantu mereka yang melarikan diri dari permusuhan baru di dalam dan di luar Sudan Selatan; serta melindungi jutaan warga Afghanistan yang telah kembali atau dipaksa kembali dari Republik Islam Iran dan Pakistan, UNHCR tetap hadir di lokasi-lokasi dengan kebutuhan paling mendesak.
Pada saat yang sama, krisis yang telah berlangsung lama semakin memburuk. Konflik yang berkelanjutan di Sudan, serangan yang meningkat di Ukraina, dan eskalasi konfrontasi bersenjata di Kolombia terus mendorong terjadinya pengungsian berulang dan sekunder, sehingga memperparah kerentanan jutaan orang yang sudah mengungsi.
“Pada 2025, pengungsian terjadi di tengah konflik berkepanjangan, bencana yang berulang, serta wabah kekerasan baru dan krisis-krisis yang muncul lainnya,” kata Ayaki Ito, Direktur Dukungan Darurat dan Program UNHCR. “Dalam lingkungan seperti ini, tim UNHCR tetap merespons kebutuhan orang-orang yang terpaksa mengungsi, meskipun keterbatasan sumber daya yang parah membatasi kapasitas kami.”
Bantuan darurat UNHCR mencakup penyediaan air bersih bagi setengah juta orang di Sudan, bantuan tunai bagi setengah juta warga Afghanistan yang kembali serta 120.000 warga Suriah yang kembali, serta lebih dari satu juta layanan bagi mereka yang mengungsi di dalam Ukraina dan di negara-negara penerima pengungsi.
Sepanjang tahun tersebut, UNHCR mengelola atau menanggapi 24 deklarasi keadaan darurat aktif di 16 negara, termasuk 10 keadaan darurat baru. Dari deklarasi baru tersebut, tujuh termasuk di antara keadaan darurat paling parah, kompleks, dan berskala besar yang ditangani UNHCR tahun lalu, yang memerlukan respons ekstensif di lingkungan yang sangat menantang, seperti di Sudan serta negara tetangganya Sudan Selatan dan Chad.
Kesiapsiagaan dan respons darurat sangat bergantung pada pendanaan yang memadai, dan berkurangnya sumber daya secara signifikan membatasi kecepatan, skala, dan jangkauan bantuan penyelamat jiwa pada 2025.
Memasuki 2026, konflik dan ketidakstabilan yang berkelanjutan di negara-negara termasuk Republik Demokratik Kongo, Sudan, Sudan Selatan, Ukraina, dan Venezuela diperkirakan akan mendorong pengungsian baru atau semakin membebani populasi yang sudah rentan. Situasi-situasi ini secara bersama-sama memengaruhi hampir 52 juta orang yang mengungsi secara paksa dan mewakili sepertiga dari kebutuhan pendanaan global UNHCR untuk 2026. Kebutuhan kemanusiaan diperkirakan akan meningkat secara signifikan tahun ini.
“Risiko ke depan sudah jelas,” kata Ito. “Konflik semakin intensif, mendorong pengungsian baru dan memperdalam penderitaan jutaan orang yang sudah mengungsi dan telah kehilangan segalanya. Komunitas internasional harus tetap terlibat dan menangani akar penyebab pengungsian, dan sementara itu, UNHCR akan terus menawarkan keahlian, jaringan, dan perangkatnya untuk bersiap menghadapi krisis, merespons dengan intervensi penyelamat jiwa, serta membangun jalur menuju kemandirian dan solusi.”
Melalui Emergency Response Mechanism (ERM), UNHCR memanfaatkan pendanaan yang fleksibel untuk memperkuat kesiapsiagaan global dan bertindak segera pada jam-jam kritis pertama suatu keadaan darurat.
Kontak Media :
- Di Geneva: Eujin Byun, [email protected], +41 79 747 87 19